Jumat, 07 Agustus 2015

23 Juli 2015 : Desa Komodo Dan Pink Beach

Pagi ini, saya kedatangan tamu tak diundang, sebut saja namanya "bulan". Berhubung saya tidak menyiapkan perlengkapan terhadap "si bulan" ini, kami memutuskan untuk pergi ke Desa Komodo untuk membeli perlengkapan. Desa Komodo terletak di Pulau Komodo. Banyak kisah yang menceritakan tentang hubungan antara komodo dan masyarakat setempat. Baru - baru ini, seorang anak SD sedang menimba air di sumur, tiba - tiba datang seekor komodo dan langsung menyerang anak tersebut. Sayangnya, anak tersebut tidak dapat tertolong. Kisah lain tentang seorang petugas sebuah provider internet yang sedang memasang sebuah tower di Pulau Komodo. Akibat kelelahan bekerja, ia duduk bersandar hingga tertidur pulas di bawah tower. Tak sadar, seekor komodo datang dan menggigit kuku kakinya. Untunglah, nasib petugas ini dapat diselamatkan setelah ada ranger yang datang untuk menolong.

Rencana hari ini ialah berkunjung ke Pulau Komodo dan Pink Beach. Masyarakat setempat menyebutnya Pantai Merah. Namun, kami tidak jadi mengunjungi Pulau Komodo karena saya sedang menstruasi. Walaupun komodo memiliki indera penglihatan yang kurang baik, komodo memiliki indera penciuman, terutama bau darah, bangkai, atau amis yang sangat baik. Komodo mampu mencium bau dari  jarak radius 10 km. Khan gak lucu kalo diserang komodo gara - gara bau darah.

Dari Desa Komodo, kami langsung menuju ke Pink Beach. Di sini, kami sempat mendaki salah satu bukit di Pink Beach. Pantai ini terkenal karena pasirnya yang berwarna pink. Sebenarnya, pasirnya berwarna putih. Adanya ganggang laut berwarna pink di sepanjang bibir pantai yang saat terkena ombak membuat kesan bahwa pasirnya berwarna pink.




Sebelum makan siang, kami menyempatkan diri untuk snorkeling di Pink Beach. Semakin sore, arus laut semakin kuat. Kami mencoba snorkeling kembali, tapi arus laut mengakibatkan banyak pasir yang terangkat sehingga jarak pandang untuk mengagumi makhluk hidup di laut menjadi semakin berkurang.


Malam ini, kami menginap di daerah Kalong, masih 1 wilayah dengan Pulau Komodo. Menjelang senja, banyak kelelawar yang beterbangan. Seperti hari kemarin, malam ini ditutup dengan makan kenyang, melihat bintang dari atas kapal, dan tidur nyenyak.


Kamis, 06 Agustus 2015

22 Juli 2015 : Pulau Rinca Dan Pulau Padar

Petualangan kami di Flores akan segera berakhir. Cara terbaik untuk mengakhiri petualangan ini ialah SAILING TRIP 4 HARI 3 MALAM. Kami menggunakan kapal milik Ibu Kadek. Biaya sailing trip sebesar Rp 3.000.000,-/orang. Kapal kami diisi oleh 4 awak kapal (Pak Kapten, Pak Arif (bagian mesin), Bunda (masterchef), dan Igo (anak magang berusia 18 tahun) dan para penumpang (saya dan Jeje). Macem honeymoon berdua doank. Tadinya, kami tidak masalah bila harus 1 kapal dengan penumpang lain, tapi Ibu Kadek tidak memiliki tamu lain, selain kami. Oh baik...

Dari Kiri Ke Kanan : Pak Kapten, Oni, Bunda, Jeje, Pak Arif (Igo yang foto jadi tidak kelihatan)
Perjalanan kami dilepas langsung oleh Ibu Kadek dan diawali dengan kapal kami mau menabrak kapal lain yang sedang bersandar. Berdoa dimulai.

Kami menuju ke Pulau Rinca. Biaya masuk ke Pulau Rinca sebesar Rp 120.000,-/orang. Kami ditemani oleh 1 guide untuk melakukan trekking. Saat kami datang, komodo sedang masuk masa kawin, sehingga tidak banyak komodo yang bisa dilihat. Kami cukup beruntung karena menemukan 3 ekor komodo. 2 ekor komodo masih kecil dan pemalu. Kalau didekati manusia, ia langsung kabur. Larinya cukup cepat. 1 ekor sedang menunggu proses persalinan karena hamil besar.

Komodo Hamil Besar

Lubang - Lubang Yang Disiapkan Oleh Komodo Betina Untuk Tempat Meletakkan Telur Komodo

Setelah melihat - lihat komodo dan mendengarkan kisah hidup komodo, kami menuju salah satu bukit di Pulau Rinca untuk menikmati alam yang telah tersaji indah.

Perjalanan Menuju Salah Satu Bukit Di Pulau Rinca
Salah Satu Bukit Di Pulau Rinca
Puas melihat komodo dan menikmati alam, kami kembali menuju ke kapal untuk makan siang. Kami sangat beruntung karena kami memiliki seorang Masterchef yang biasa dipanggil Bunda. Masakannya sangat menggoyang lidah. Kenyang makan. Lanjut tidur siang. Indahnyooo hidup iniii...

Sore hari, kami tiba di Pulau Padar. Kami melakukan trekking menuju ke salah satu bukit di Pulau Padar. Menurut cerita Bapak Kapten, di Pulau Padar ada 5 ekor komodo yang baru saja dipindahkan dari Pink Beach ke Pulau Padar karena membahayakan turis di Pink Beach. Iya Pak..pindahin ke Pulau Padar jadinya membahayakan turis di Pulau Padar, gak kelar - kelar ini ngurusin 5 ekor komodo. 

Pulau Padar
Kami cukup lama di Pulau Padar sembari menikmati matahari terbenam.

Malam ini, kami menginap di Pulau Padar. Kenyang makan malam. Puas menikmati bintang di langit dari atas kapal. Tidur malam dibuai ombak dan angin.
 
Kontak :
Ibu Kadek Kapal : 081 - 338 - 256652

21 Juli 2015 : Labuan Bajo

Setelah menanti matahari terbit yang bersembunyi di balik bukit dan menghirup udara segar di Wae Rebo, kami memutuskan untuk pulang dari Wae Rebo. Perjalanan pulang ini memakan waktu sekitar 2 jam dengan medan yang licin (saya sempat terjatuh saking licinnya, sakit tidak, hanya malu sedikit). Kami tiba kembali di rumah Pak Blasius untuk mandi dan minum teh sejenak. Setelah itu, kami kembali naik mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Perjalanan dari Desa Denge Ruteng menuju ke Labuan Bajo memakan waktu 5 jam dengan medan yang sangat berkelok - kelok. Perjalanan ini cukup membuat saya mual dan pusing.

Kami sempat berhenti di daerah Lembor untuk makan siang di sebuah rumah makan Padang. Saya memesan mie instan kuah campur telur dan cabai (tetep mie instan). Kami tiba di Labuan Bajo pukul 16.30 WITA dan menginap di ORANGE HOTEL yang letaknya tidak jauh dari dermaga dan berseberangan dengan TK St. Ursula. Biaya penginapan sebesar Rp 300.000,-/malam dengan fasilitas kamar AC, tv, spring bed untuk 2 orang, dan shower air panas (mandiiii lagiiii).

Sore hari, teman saya memutuskan untuk berjalan - jalan di dermaga untuk menikmati matahari terbenam (ia penggemar berat golden sunset dan golden sunrise, tapi bukan golden ways). Saya memutuskan untuk mandi air panas di kamar hotel.

Malam hari, kami makan cumi goreng dan cah kangkung di warung makan pinggir jalan dekat dermaga. Harga cumi goreng cukup fantastis sekitar Rp 90.000,- / ekor. Namun, anda tidak akan kecewa karena kekenyalan cuminya sangat menggoyang lidah (macem pantura digoyang).

Rabu, 05 Agustus 2015

20 Juli 2015 : Wae Rebo

Setelah sarapan dan dijemput di Hotel Rima oleh Kak John dari pihak Flores Charm Tour, kami pergi menuju ke Desa Denge, desa terakhir sebelum Wae Rebo. Perjalanan dari Ruteng menuju Desa Denge memakan waktu 3 jam. Selama perjalanan, kami melewati, hutan, sawah, ladang, dan pantai. Ini bukan sembarang pantai karena pantainya berpasirkan batu. Ombaknya pun sangat besar.

Tiba di Desa Denge, kami disambut oleh Bapak Blasius. Bapak Blasius adalah orang Wae Rebo. Ia lahir dan besar di sana. Menurut Bapak Blasius, beliau adalah orang yang pertama kali memperkenalkan desa Wae Rebo sebagai desa wisata. Beberapa tahun yang lalu, ia bersama kawannya mengunjungi hotel - hotel di Flores untuk mengenalkan Wae Rebo. Pada awalnya, desa Wae Rebo memiliki 4 rumah, termasuk rumah adat. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, dibangun 2 rumah lagi dan 1 rumah untuk tamu / turis untuk menginap.

Sebelum trekking menuju Wae Rebo, kami makan siang di rumah Pak Blasius. Makan siang ini sangat penting karena kami akan mendaki bukit dengan medan yang cukup menanjak dan menempuh perjalanan selama 4 jam. Kenyang makan mie sedap kuah campur telor (kenapa mie instan itu rasanya enak banget yaa kalau lagi jauh dari rumah), kami menuju Wae Rebo. Perjalanan kami diawali dengan jalan berbatu - batu besar. Menurut rencana, jalanan ini akan diaspal agar nantinya mobil / motor bisa masuk ke area ini. Setelah kami melewati sungai, perjalanan sesungguhnya dimulai. Masuk ke dalam hutan. Jalanan menanjak. Kadang - kadang licin. Sebelum mencapai Desa Wae Rebo, kami melewati sebuah jembatan bambu yang melewati sebuah sungai yang cukup deras.


Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam, kami sampai di Desa Wae Rebo. Menurut peraturan adat, setelah kami melewati pintu gerbang desa, kami tidak boleh mengambil gambar / foto sebelum meminta izin ke Kepala Adat yang berada di rumah adat. Jadi, setelah kami tiba, kami langsung menuju ke rumah adat untuk meminta izin, lalu menuju ke tempat penginapan untuk makan siang dan beramah - tamah dengan tamu yang lain.



Setelah itu, kami bermain dengan anak - anak dan berbincang dengan 2 ibu yang sedang mengayak biji kopi. Salah satu ibu bercerita bahwa ia memiliki 9 orang anak. 2 dari 8 anaknya lahir saat sang Ibu sedang berkebun. Anaknya yang ke - 9 lahir saat ia dan sang suami dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Denge. Ia bercerita bahwa dalam perjalanan, tiba - tiba sang anak ke - 9 lahir, suaminya langsung menuju ke Wae Rebo untuk mengambil gunting. Begitu sang suami sudah tiba lagi di jalan menemui sang Ibu, ia langsung memberikan gunting ke sang Ibu, sang Ibu menarik ari - ari hingga ke lutut, ari - ari digunting oleh sang Ibu, dan Ibu beserta suami pulang ke Desa Wae Rebo dengan membawa anaknya yang ke - 9. Pergi ke Puskesmas berdua, pulang dari Puskesmas bertiga. 

 
Malam itu ditutup dengan melihat bintang yang tampak begitu dekat.

Kontak :
Bapak Edward (Hotel Rima Ruteng) : 0385 - 22196
John (Flores Charm Tour) : 081 - 338 - 656287


 

Selasa, 04 Agustus 2015

19 Juli 2015 : NET TV Di Ruteng

Pukul 09.00 WITA, kami berangkat dari Bajawa menuju Ruteng. Kami menggunakan travel dengan biaya Rp 150.000,-. Perjalanan dari Bajawa ke Ruteng menempuh waktu 3 - 4 jam dengan melewati jalanan aspal yang mulus berkelok - kelok naik dan turun. Bagi anda yang punya masalah dengan mabuk darat, perjalanan ini menjadi tantangan besar, apalagi kalau penumpang di depan anda selama perjalanan sedang muntah - muntah. Asyik banget broooo...

Akhirnya, kami tiba di Ruteng, tepatnya HOTEL RIMA. Biaya menginap di Hotel Rima sebesar Rp 300.000,- / malam dengan fasilitas shower air panas (mari mandiiii), televisi, dan spring bed untuk 2 orang. Teman saya memutuskan untuk pergi ke daerah CANCAR, sebuah bukit dengan pemandangan sawah di bawahnya yang mirip dengan spider web (jaring laba - laba). Saya tidak ikut teman saya karena saya sudah pernah ke Cancar dan masih pusing efek perjalanan. Jadi, saya memutuskan untuk nonton NET TV di hotel.  Jauh - jauh pergi, nontonnya tetep NET TV.

Sore hari, saya bertemu teman saya di KAFE MANE, salah satu tempat makan mie goreng terenak di Flores yang dikelola oleh orang tua kakak kelas saya. Di sana, kami berbincang dengan kedua orang tua kakak kelas saya, minum Kopi Mane, dan makan mie goreng.

Sempat terjadi "drama" sedikit. Jadi, kami berencana ke kampung Wae Rebo tanggal 20 - 21 Juli 2015. Kami sudah melakukan pemesanan paket Wae Rebo menggunakan travel Flores Charm. Saat kami di Kafe Mane, salah satu guide dari travel, Kak John, mendatangi kami untuk melakukan pembayaran DP. Perjanjian awal, harga paket kami sebesar Rp 1.600.000,-/orang (all in). Namun, saat di Kafe Mane, biaya sebesar itu tidak termasuk biaya guide lokal dan makan siang. Sontak saja, saya dan kedua teman saya tidak terima. Beruntung, saya datang bersama dengan teman saya yang langsung diimport dari Padang, jadi teman saya ini yang bernegosiasi dengan John dan Ibu Sisca (orang yang melakukan perjanjian di awal dengan kami). Saya juga mengatakan kepada teman saya bahwa saya hanya mau membayar sesuai perjanjian awal, kalau tidak sesuai perjanjian awal, saya memilih tidak ikut. Sok banget y gw.. Sebenarnya, bukan karena janji adalah janji, tapi karena uang sudah semakin menipis, jadi harus mulai kikir sedikit. Debat punya debat. Teman saya memenangkan perdebatan. Jadi, kami tetap membayar sesuai perjanjian awal.

Malam hari, kami membeli sedikit perlengkapan untuk ke Wae Rebo dengan berjalan kaki berlampukan sinar rembulan (bukan sok puitis, tapi karena di sepanjang jalan Ruteng tidak ada penerangan lampu). 


18 Juli 2015 : Air Panas Mengeruda & Kampung Adat Bena

Setelah tertidur pulas di Pondok SVD dan berpamitan dengan Bapak Kris beserta istri, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Bajawa menggunakan jasa penyewaan mobil Bapak Mat. Biaya transportasi dari Riung - Bajawa sebesar Rp 500.000,-/mobil. Sepanjang perjalanan Riung - Bajawa, kami disuguhi panorama bukit dan sawah.

Sebelum tiba di kota Bajawa, kami mengunjungi AIR PANAS MENGERUDA. Ini adalah sebuah sungai yang mengalirkan air panas. Biaya masuk ke tempat wisata ini sebesar Rp 10.000,-. Di dalam tempat wisata ini, ada 2 kolam besar untuk menampung air panas. Kebanyakan orang yang mengunjungi air panas ini memilih untuk merendam kaki atau badannya di dalam sungai. Berhubung saya malas untuk mengganti pakaian, saya memilih untuk merendam kaki.
Air Panas Mengeruda
Kolam Air Panas Mengeruda
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke kota Bajawa. Bapak Mat, supir kami, menawarkan untuk makan siang terlebih dahulu. Kayaknya ini Bapak Mat-nya yang kelaparan karena dia getol banget nawarin makan. Kami makan di Rumah Makan Padang. Saya memesan nasi dan ayam goreng. JENG JENG JENG. Tampaknya, itu daging ayam yang digoreng seminggu yang lalu saking kerasnya.

Siang hari, kami tiba di LUKAS LODGE, tempat kami menginap. Kami memilih kamar dengan air panas karena daerah Bajawa terkenal sangat dingin di malam hari. Menurut saya, ini penginapan paling cozy selama saya berlibur karena nuansa kayu dan hangatnya sangat terasa. Biaya penginapan di sini dengan kamar air panas sebesar Rp 350.000,-/malam.
Lukas Lodge
Setelah beristirahat dan makan sejenak, kami memutuskan untuk menuju KAMPUNG ADAT BENA, sebuah kampung adat zaman megalitikum. Dari Lukas Lodge menuju ke Kampung Bena, kami menyewa ojek motor dengan harga Rp 100.000,-/motor. Sepanjang perjalanan menuju Kampung Bena, kami melewati persawahan dengan latar belakang Gunung Inerie.

Saat kami tiba di Kampung Bena, ada acara adat yang berlangsung, yaitu pembangunan rumah adat. Beberapa pria sedang membangun rumah, beberapa pria yang lain sedang memasak daging babi, dan beberapa anak sedang memainkan alat musik khas. Yang menarik ialah bila ada tamu / turis yang sedang berkunjung saat upacara adat sedang berlangsung, turis / tamu akan disajikan makanan. Tak tanggung - tanggung, makanannya adalah babi yang direbus dengan air dan garam.  Yang dimaksud babi di sini ialah daging, tulang, jeroan, telinga, kepala, intinya semua bagian tubuh babi.

Kampung Adat Bena
Bagian Belakang Kampung Adat Bena
Malam hari, kami menghabiskan waktu di Lukas Lodge karena daerah Bajawa sangat dingin. Jadi, cara terbaik untuk mengatasi hal itu adalah tidur dengan berselimutkan selimut tebal dan pengalaman - pengalaman menarik sambil tak lupa bersyukur karena Tuhan sudah begitu baik pada umat - Nya yang bergelimang dosa ini.

 Kontak :
Bapak Denso Lukas Lodge (Penginapan) : 082 - 340 - 887496

Senin, 03 Agustus 2015

Cerita Oni: 17 Juli 2015 : Riung (Melihat Flores Dari Luar)

Cerita Oni: 17 Juli 2015 : Riung (Melihat Flores Dari Luar): Kami tiba di Riung, Bajawa pukul 01.30 WITA dengan mata kantuk, badan pegal, dan perut lapar. Kami langsung menuju ke PONDOK SVD , tempat ka...

17 Juli 2015 : Riung (Melihat Flores Dari Luar)

Kami tiba di Riung, Bajawa pukul 01.30 WITA dengan mata kantuk, badan pegal, dan perut lapar. Kami langsung menuju ke PONDOK SVD, tempat kami menginap. Penginapan ini merupakan salah satu penginapan terbaik di Riung.

Pukul 09.00 WITA, kami bersiap menuju ke Taman Laut 17 Pulau Riung. Kami sempat menunggu beberapa saat di PATO RESTO (milik Bapak Kris yang bersebelahan dengan Pondok SVD) karena Kapten Kapal Bapak Udin yang akan mengantarkan ke Taman Laut 17 Pulau Riung masih menjalankan sholat Idul Fitri.


Daerah Riung entah pagi, siang, sore, atau malam selalu sepi dan lengang. Tidak terlalu banyak aktivitas masyarakat yang tampak.

Pukul 09.30 WITA, kami memulai perjalanan di Taman Laut 17 Pulau Riung. Menurut Bapak Kapten, sebenarnya di taman laut ini ada 22 pulau, bukan 17 pulau. Penamaan 17 pulau ini untuk memperingati hari kemederkaan RI pada tanggal 17 Agustus. Sepanjangan perjalanan, kami disuguhi panorama Pulau Flores. Saking cerahnya, awan saja berbayang di atas Pulau Flores.

Pulau Flores Dilihat Dari Luar Pulau
Pulau pertama yang kami tuju ialah PULAU ONTOLOE / PULAU KELELAWAR. Yang menarik dari pulau ini ialah begitu banyak kelelawar yang bergelantungan di ranting - ranting pepohonan. Kelelawar ini akan terbang bila kami berteriak keras karena kelelawar merasa terganggu jam tidur siangnya. Kasihan juga sich.. Wong mau tidur siang tapi demi kepuasan turis, kelelawar jadinya diganggu. 

Setelah itu, kami menuju ke PULAU TIGA untuk snorkeling, berenang, dan makan siang. Pulau ini dinamakan Pulau Tiga karena ada 3 bukit di dalam pulau ini. Saat snorkeling, arus ombak membuat saya cukup was - was. Arusnya cukup kenyang. Ini adalah pengalaman pertama kali saya setelah snorkeling mengalami kedinginan karena air di dalam laut dingin. Berhubung saya juga tidak terlalu suka dingin, jadi bagian ini cukup PR buat saya. Pemandangan laut di sini menyajikan keanekaragaman ikan, terumbu karang, dan tumbuhan laut lainnya.

Terakhir, kami menuju ke PULAU RUTONG. Pulau ini merupakan spot bukit terbaik untuk melihat Pulau Flores, Pulau Meja, laut, ombak, dan awan.
Pemandangan Dari Bukit Di Pulau Rutong


Pulau Meja
Hari kami ditutup dengan makan kenyang cumi asam manis di PATO RESTO milik Bapak Kris.

Biaya transportasi dari Ende - Riung menggunakan travel sebesar Rp 175.000,-/orang. 
Biaya penginapan di Pondok SVD sebesar Rp 250.000,-/malam/kamar untuk 2 orang. 
Biaya penyewaan kapal selama 1 hari sebesar Rp 800.000,-/kapal, termasuk biaya makan siang.

Kontak :
Bapak Mat (Travel Mobil Flores) : 081 - 338 - 716956
Bapak Kris Riung : 081 - 338 - 075432

17 Juli 2015 : Riung (Melihat Flores Dari Luar)

Kami tiba di Riung, Bajawa pukul 01.30 WITA dengan mata kantuk, badan pegal, dan perut lapar. Kami langsung menuju ke PONDOK SVD, tempat kami menginap. Penginapan ini merupakan salah satu penginapan terbaik di Riung.

Pukul 09.00 WITA, kami bersiap menuju ke Taman Laut 17 Pulau Riung. Kami sempat menunggu beberapa saat di PATO RESTO (milik Bapak Kris yang bersebelahan dengan Pondok SVD) karena Kapten Kapal Bapak Udin yang akan mengantarkan ke Taman Laut 17 Pulau Riung masih menjalankan sholat Idul Fitri.


Daerah Riung entah pagi, siang, sore, atau malam selalu sepi dan lengang. Tidak terlalu banyak aktivitas masyarakat yang tampak.

Pukul 09.30 WITA, kami memulai perjalanan di Taman Laut 17 Pulau Riung. Menurut Bapak Kapten, sebenarnya di taman laut ini ada 22 pulau, bukan 17 pulau. Penamaan 17 pulau ini untuk memperingati hari kemederkaan RI pada tanggal 17 Agustus. Sepanjangan perjalanan, kami disuguhi panorama Pulau Flores. Saking cerahnya, awan saja berbayang di atas Pulau Flores.

Pulau Flores Dilihat Dari Luar Pulau
Pulau pertama yang kami tuju ialah PULAU ONTOLOE / PULAU KELELAWAR. Yang menarik dari pulau ini ialah begitu banyak kelelawar yang bergelantungan di ranting - ranting pepohonan. Kelelawar ini akan terbang bila kami berteriak keras karena kelelawar merasa terganggu jam tidur siangnya. Kasihan juga sich.. Wong mau tidur siang tapi demi kepuasan turis, kelelawar jadinya diganggu. 

Setelah itu, kami menuju ke PULAU TIGA untuk snorkeling, berenang, dan makan siang. Pulau ini dinamakan Pulau Tiga karena ada 3 bukit di dalam pulau ini. Saat snorkeling, arus ombak membuat saya cukup was - was. Arusnya cukup kenyang. Ini adalah pengalaman pertama kali saya setelah snorkeling mengalami kedinginan karena air di dalam laut dingin. Berhubung saya juga tidak terlalu suka dingin, jadi bagian ini cukup PR buat saya. Pemandangan laut di sini menyajikan keanekaragaman ikan, terumbu karang, dan tumbuhan laut lainnya.

Terakhir, kami menuju ke PULAU RUTONG. Pulau ini merupakan spot bukit terbaik untuk melihat Pulau Flores, Pulau Meja, laut, ombak, dan awan.
Pemandangan Dari Bukit Di Pulau Rutong


Pulau Meja
Hari kami ditutup dengan makan kenyang cumi asam manis di PATO RESTO milik Bapak Kris.

Biaya transportasi dari Ende - Riung menggunakan travel sebesar Rp 175.000,-/orang. 
Biaya penginapan di Pondok SVD sebesar Rp 250.000,-/malam/kamar untuk 2 orang. 
Biaya penyewaan kapal selama 1 hari sebesar Rp 800.000,-/kapal, termasuk biaya makan siang.

Kontak :
Bapak Mat (Travel Mobil Flores) : 081 - 338 - 716956
Bapak Kris Riung : 081 - 338 - 075432

Minggu, 02 Agustus 2015

Ardina Rahman

Hari ini. 3 Agustus 2015. Teman kantor saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Saya mengetahui kabar tersebut setelah saya menelponnya.

Setelah libur lebaran, ia tidak pernah bercerita bahwa ia akan mengundurkan diri. Bagi saya, itu tidak masalah. Kalau mau cerita, silakan. Tidak cerita, silakan. Ia hanya sempat menanyakan rencana saya untuk mengundurkan diri.

Ia tinggal di Salemba, Jakarta Pusat. Pertama kali, kami makan siang bersama, ia sudah menunjukkan diri sebagai sosok yang hangat, terbuka, dan memiliki prinsip. Salah satu yang membuat kami dekat ialah kami senang bercanda, selalu tertawa, dan saling mengatai tanpa bermaksud untuk menjatuhkan satu sama lain.

Awalnya, saya pikir ia adalah orang Betawi. Cara bicara teman saya ini mirip dengan orang Betawi. Caranya mengeluarkan lelucon juga khas lenong Betawi.Cerita punya cerita. Ibunya adalah orang Sunda, sedangkan ayahnya adalah orang Bima, NTB.

Saya sangat bersyukur karena hari - hari saya di kantor diisi oleh candaan dari teman saya ini.

Ada pertemuan, ada perpisahan.

Semoga hubungan pertemanan kami tetap terjalin.

Bu Ina, Dina, Oni (dari kiri ke kanan)

16 Juli 2015 : Menuju Pulau Flores

Saya bangun pagi dengan perasaan semangat menggebu - gebu dan cemas luar biasa. Semangat karena saya akan ke Flores. Cemas karena ketakutan Bandara Ngurah Rai akan ditutup seperti 4 hari yang lalu. Saya sudah membayangkan yang buruk. Bila bandara ditutup kembali, saya pulang saja ke Jakarta. Capai hati ini...

Dari Kuta menuju bandara, saya naik taksi Blue Bird dengan biaya Rp 30.000,- (lebih murah daripada ojek Rp 40.000,-). Saya check in, menuju Gate, menghafal kode penerbangan, sembari berdoa supaya semua akan baik - baik saja. Dan benar saja. Pesawat Wings Air Denpasar - Maumere mengalami keterlambatan. Cemas semakin menjadi - jadi. Yang dinanti akhirnya tiba. Saya dipanggil menuju Gate 3 karena pesawat akan lepas landas. Rasanya begitu bahagia saat pesawat benar - benar lepas landas.


Perjalanan Denpasar - Maumere menggunakan pesawat Wings Air memakan waktu 2 jam. Di pesawat, saya berbincang dengan seorang pria asal Maumere. Awalnya, ia mengeluh karena ini kali pertama naik Wings Air menuju Maumere. Biasanya, ia naik NAM Air yang memakan waktu 1 jam 20 menit dari Denpasar menuju Maumere. Cerita punya cerita. Ternyata, Bapak ini memiliki nasib yang sama dengan saya. Tertahan 4 hari di Bali. Jalan - jalan di Kuta dan Legian untuk kali pertama. Dan sama - sama puas. Tidak ada rasa sesal karena tertahan 4 hari di Bali.

Tiba di Maumere pukul 17.00 WITA. Menurut informasi dari Tante saya, biaya naik bis Maumere - Ende sebesar Rp 80.000,-, sedangkan menyewa mobil Maumere - Ende sebesar Rp 800.000,-. Wow... Keluar dari Bandara, banyak orang yang menawarkan jasa penyewaan mobil. Dengan langkah pasti dan sok tahu, saya bertanya ke salah satu pria. "Apakah Bapak menyewakan travel ke Ende?", tanya saya. "Sebentar Adik. Saya tanya kawan saya dulu", jawab sang pria. Tidak lama kemudian, temannya datang menawarkan biaya Rp 200.000,- Maumere - Ende dengan alasan untuk ganti uang bensin. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan.

Di dalam mobil Kijang Innova Maumere - Ende, ada 3 orang, yaitu supir (teman Bapak tadi), Bapak tadi (namanya Pak Kris), dan saya sebagai penumpang. Jadi, saya sendirian. Tuhan menyertai saya. Amin.

Cerita punya cerita. Pak Kris dan temannya ini memiliki sebuah travel. Mereka memang berniat ke Ende sore ini karena besok pagi akan menjemput turis dari Prancis. Sebelum ke Ende, mereka memutuskan ke Bandara Frans Seda Maumere, siapa tahu ada yang orang yang juga mau ke Ende. Lumayan untuk mengganti uang bensin. Benar saja. Mereka ketemu saya, saya ketemu mereka.

Sepanjang perjalanan, Pak Kris bercerita banyak, tentang hidupnya, Flores, Lembata, Bali, Papua, dll. Senang sekali bertemu dengan Pak Kris. Karena beliau, suatu hari, saya harus pergi ke Papua. AMIN. Dalam perjalanan, mobil kami berjumpa dengan seorang ibu dan 2 anaknya yang sudah remaja. Mereka juga hendak ke Ende. Ibu dan 2 anaknya duduk bersama saya di bagian tengah mobil. Sepanjang perjalanan, kedua anaknya muntah - muntah. Cobaan yang menyenangkan.

Sekitar pukul 19.00 WITA, kami tiba di Warung Makan Jawa Timur. Yang makan malam saat itu ialah saya, Pak Supir, dan Pak Kris. Menurut Om saya, ada peraturan tidak tertulis bila kita menyewa mobil di Flores, yaitu penumpang harus membayar makanan supir. Hmm.. Baiklah. Tidak apa - apa. Toch saya dapat cerita banyak dari mereka.

Tiba di Ende sekitar pukul 22.00 WITA di rumah Om saya. Di sana, kawan saya sudah menunggu. Tante saya juga sudah menyiapkan teh manis hangat dan bekal makan malam kami. Saya tidak lama di rumah Om saya karena travel yang mengantarkan kami menuju ke Riung sudah siap. Biaya menggunakan travel dari Ende - Riung sebesar Rp 150.000,-/orang. Di dalam mobil travel, ada 4 penumpang, termasuk saya dan kawan saya. Kami memutuskan untuk langsung berangkat ke Riung karena malam ini adalah malam takbiran, sehingga besok pagi tidak ada travel atau bisa yang menuju ke Riung.

Untuk diketahui, yang dimaksud dengan travel di Flores ialah 1 mobil berisi para penumpang yang berbeda - beda dengan tujuan yang sama. Harganya tentu jauh lebih murah dibandingkan menyewa 1 mobil dan kondisi mobilnya lebih menyenangkan dibandingkan naik bis. Mobil yang digunakan biasanya Kijang Innova, Suzuki APV, Toyota Avanza, atau Kijang Kapsul. 

Kontak :
Bapak Kris (Tour & Travel Flores) : 0813 - 394 - 18362

15 Juli 2015 : Menikmati Hidup Di Kamar Hotel

Hari ini adalah hari raya Galungan. Menurut sepupu saya yang tinggal di Bali, bila ada perayaan keagamaan di Bali, banyak tempat makan, toko, dan travel yang tutup. Dan benar saja. Saya menelpon travel dan rental mobil untuk mengantar saya ke daerah Nusa Dua Bali, tidak ada buka. Kalau ada yang buka, harganya sangat mahal. Jadi, saya memutuskan untuk menghabiskan hari di Kuta saja.

Siang hari, saya mencari tempat makan siang. Banyak yang masih tutup. Akhirnya, saya mendapatkan sebuah tempat makan yang cukup ramai. Saya memesan "Nasi Goreng Bali" karena saat saya di Ubud, saya memesan Nasi Goreng Bali yang rasanya sangat enak. Pesanan saya datang lengkap dengan kerupuk dan sambal mentah khas Bali. Saat saya makan, JENG JENG JENG... rasanya asin luar biasa keterlaluan parah. Tampaknya, sang chef hanya memasukkan garam. Berhubung ada pepatah yang menyatakan bahwa jangan membuang makanan, saya memakan Nasi Goreng Bali itu hingga setengahnya. Bukan karena pepatah itu, tapi karena tidak mau rugi, harganya lumayan brooo...

Perut kenyang dengan isian garam, kaki pegal akibat efek Batur tempo hari. Saya memutuskan untuk melakukan pijat kaki dengan biaya Rp 60.000,- di daerah Jalan Legian. Ternyata, mbak yang pijat kaki saya adalah orang Cimahi Bandung. Ngek ngok. Dia cerita tentang perjalanan hidupnya hingga tiba di Legian Bali. Lumayan dapat teman bicara. Pijatan kakinya biasa saja, tambah pegal iya. Entah karena memang kaki saya sangat pegal, entah karena pijatannya salah.

Kemudian, saya kembali ke Bakung Sari Hotel. Saya memutuskan untuk berenang di area hotel. Berhubung kemampuan saya berenang agak rendah, saya berenang di daerah pinggir kolam renang. Ternyata, saya kurang suka dengan kaporit kolam renang, sehingga saya berenang hanya sebentar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mandi dengan pancuran air panas, tidur siang, dan nonton tv.

Sore harinya, saya mencari makan di daerah Jalan Kuta. Sudah banyak restoran / tempat makan yang buka. Saya memutuskan untuk makan di tempat yang cukup ramai karena tidak mau tertipu lagi seperti saat makan siang. Saya makan di Kuta Paradiso Hotel. Makanannya enak. Harganya juga "enak". Tidak apa - apa. Tuhan kita kaya ini.. (menghibur diri)..

Tiba di hotel, saya menonton tv dan menyiapkan diri untuk terbang besok.

Wow.. Ternyata, bermalas - malasan seharian, tanpa memikirkan tentang pekerjaan, beban hidup, dll sangat menyenangkan. Terima kasih juga untuk Mbak Pijat dari Cimahi Bandung yang membuat hari saya menjadi berwarna.