Setelah libur lebaran, ia tidak pernah bercerita bahwa ia akan mengundurkan diri. Bagi saya, itu tidak masalah. Kalau mau cerita, silakan. Tidak cerita, silakan. Ia hanya sempat menanyakan rencana saya untuk mengundurkan diri.
Ia tinggal di Salemba, Jakarta Pusat. Pertama kali, kami makan siang bersama, ia sudah menunjukkan diri sebagai sosok yang hangat, terbuka, dan memiliki prinsip. Salah satu yang membuat kami dekat ialah kami senang bercanda, selalu tertawa, dan saling mengatai tanpa bermaksud untuk menjatuhkan satu sama lain.
Awalnya, saya pikir ia adalah orang Betawi. Cara bicara teman saya ini mirip dengan orang Betawi. Caranya mengeluarkan lelucon juga khas lenong Betawi.Cerita punya cerita. Ibunya adalah orang Sunda, sedangkan ayahnya adalah orang Bima, NTB.
Saya sangat bersyukur karena hari - hari saya di kantor diisi oleh candaan dari teman saya ini.
Ada pertemuan, ada perpisahan.
Semoga hubungan pertemanan kami tetap terjalin.
![]() |
| Bu Ina, Dina, Oni (dari kiri ke kanan) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar