Jumat, 31 Juli 2015

14 Juli 2015 : Batur Menguji Stamina

Kakak saya di Jakarta memberi ide agar saya melakukan trekking untuk melihat sunrise di Gunung Batur. Pukul 02.00 WITA, saya bangun dan langsung menyiapkan diri untuk trekking menggunakan jasa travel dari Bapak Radin. Biaya trekking sebesar Rp 300.000,-, termasuk biaya transportasi, guide, dan sarapan.

Pukul 02.30 WITA, saya dijemput oleh Bapak Radin di Sari Bungalow, tempat saya menginap di Ubud. Di dalam mobil Avanza, sudah ada 1 pasangan dari Kanada yang berangkat dari Kuta. Setelah menjemput saya, mobil Bapak Radin menjemput 1 pasangan lain dari Denmark. Alhasil, kelompok trekking saya, terdiri dari saya, 1 pasangan Kanada, dan 1 pasangan Denmark.

Sebelum tiba di kaki gunung Batur, kami berhenti di sebuah warung yang berada di kebun kopi untuk minum secangkir kopi luwak dan makan pancake. Di dalam warung kopi tersebut, saya berkenalan dengan 1 pasangan dari Swedia. Mereka sangat harmonis dan serasi. Sang pria selalu membantu sang wanita apabila sang wanita tidak menemukan kata dalam bahasa inggris yang tepat. (Kalau saya, asal cas cis cus aja, yang penting pede, padahal grammar - nya kacau banget).

Saat tiba di kaki gunung Batur, kelompok saya didampingi oleh seorang guide lokal. Lama perjalanan trekking hingga mencapai puncak gunung ialah 2 jam. Perjalanan pun dimulai. Saya memakai perlengkapan yang cukup lengkap, jaket double dengan kupluk dan SANDAL GUNUNG (sok debus banget).

Awalnya, saya semangat karena jalanan yang dilalui masih berupa aspal. Lama kelamaan, medan yang dilalui semakin menanjak, berbatu, dan berpasir. Saya semakin tertinggal dari rombongan. 2 jam itu terasa sangat lama dan sangat berat. Rasanya, saya mau turun loncat dan tidur saja di homestay. Saya langsung menyadari sepertinya hanya saya yang memakai sandal gunung, yang lain memakai sepatu. Harusnya saya mengikuti nasihat kakak saya untuk membeli sepatu.

Dengan penuh perjuangan sebagai anggota kelompok yang paling terakhir tiba di puncak, saya mencapai puncak gunung Batur. Tanpa malu - malu, saya mengajukan diri untuk duduk di tikar bersama pasangan Kanada. Saya suka dengan pasangan ini karena mereka selalu bercanda dan tertawa. Sembari menikmati sunrise Gunung Batur, kita bisa memandangi Danau Batur dan Gunung Agung.


Saat turun dari puncak Gunung Batur, kami menyempatkan diri melihat kawah gunung Batur dan tingkah laku segelintir monyet.
Walaupun saya naik gunung Batur dengan rasa "mau mati", moment ini harus tetap diabadikan seperti ini :
Dari Gunung Batur, saya diantar oleh pihak travel menuju homestay. Di homestay, saya sempat berkenalan dengan satu pria Prancis yang sudah tinggal di homestay tersebut selama 8 bulan. Pria ini sangat fasih berbahasa indonesia. Ternyata, dia sedang ada proyek untuk membuat Festival Musik Tubuh Internasional yang tahun ini diadakan di Ubud.

Setelah itu, saya segera menyiapkan diri untuk pergi dari Ubud menuju Kuta menggunakan Perama Tour & Travel. Sebelum berangkat naik bis ke Kuta, saya dan Pak Kadek (ojek) mampir di toko sandal jepit karena telapak kaki saya sakit akibat "debus" di Gunung Batur (y iya lah.. wong medannya batu dan pasir, plus pake sandal gunung yang kegedean). Sebagai penikmat bebek, saya juga membeli BEBEK BENGIL  yang terkenal itu. Tidak heran harganya mahal Rp 120.000,-, karena dagingnya besar, nasi dan lauk banyak, dan sambal mantap.

Tiba di Kuta, saya menginap di BAKUNG SARI HOTEL dengan harga Rp 235.537,-/malam. Fasilitas yang didapatkan di hotel ini ialah shower air panas, AC, tv, balkon, dan tentunya jendela.

Hmm.. Setelah tiba di hotel, saya langsung tidur dan beristirahat efek dari Batur tanpa tahu besok akan kemana dan beraktivitas apa lagi.


Kontak :
Bapak Radin (Batur) : 085-239-150488

Tidak ada komentar:

Posting Komentar