Ini adalah pertama kali saya berlibur di Bali. Seorang diri pula.
Saya bangun pukul 07.00 WITA. Langsung keluar dari hotel. Tanpa tahu ingin berkunjung kemana. Saat keluar dari hotel, saya melihat papan penunjuk jalan menuju ke arah pantai. Saya ikuti jalan tersebut. Dan benar saja, saya tiba di PANTAI KUTA. Sebuah pantai yang terkenal hingga mancanegara karena ombak yang sangat ramah bagi para peselancar pemula.
Saat saya menelusuri pantai Kuta, saya tersadar oleh beberapa hal, yaitu :
1. Pasir di Pantai Kuta berwarna kecoklatan.
2. Pantai Kuta berbatasan langsung dengan Bandara Ngurah Rai. (Lah.. gw kemana aja selama ini).
Setelah berjalan - jalan sebentar di Pantai Kuta dan sempat ditawari belajar berselancar, saya memutuskan untuk menuju ke Pantai Legian yang letaknya persis di samping Pantai Kuta.
Di Pantai Legian, pasirnya lebih putih dibandingkan dengan Pantai Kuta dan lebih banyak yang berselancar di sana. Tampaknya, suatu hari, saya harus belajar berselancar. Menarik melihat orang berenang dengan papan selancar menuju ke arah ombak datang, lalu mencoba berdiri di atas papan selancar mengikuti arah dan laju ombak, terjatuh dari papan selancar, berenang lagi menuju arah ombak datang, dan seterusnya hingga akhirnya berhenti berselancar.
Setelah itu, saya menuju ke Tugu Peringatan Bom Bali 2002. Saya cukup merinding ketika menginjakkan kaki di tugu peringatan tersebut. Sebelum terjadi Bom Bali 2002, tempat tersebut adalah kafe Paddy's Pub. Saya membayangkan bahwa daya ledak bom Bali tersebut begitu luar biasa hingga mengakibatkan banyak nyawa yang melayang. Tiba - tiba saya berpikir : apa yang ada di pikiran para pelaku pemboman ketika sedang menyusun rencana pemboman dan melakukan aksi pemboman ? Apakah mereka tidak memikirkan bahwa ketika 1 nyawa melayang, maka ada lebih dari 1 orang yang sedih dan merasa kehilangan ? Entahlah.
Setelah itu, saya kembali ke hotel untuk bersiap menuju ke Ubud. Tujuan ke Ubud ini berasal dari ide kakak saya di Jakarta agar saya ke sana.
Dari Kuta Sari Hotel, saya tinggal lurus menuju ke Jalan Legian ke tempat PERAMA TOUR & TRAVEL. Di sana, saya membeli tiket bis dari Kuta - Ubud seharga Rp 60.000,-. Berdasarkan informasi dari teman kakak saya, ada penginapan murah di Ubud bernama SARI BUNGALOW dengan harga Rp 80.000,-/malam.
Di Ubud, bis saya berhenti di PERAMA TOUR & TRAVEL. Dari situ, saya naik ojek menuju ke Sari Bungalow dengan harga Rp 20.000,-.
Di Sari Bungalow, ada penyewaan sepeda dan sepeda motor. Saya memilih menyewa sepeda, bukan karena ramah lingkungan, tapi karena saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Biaya penyewaan sepeda sebesar Rp 30.000,-/hari. Sari Bungalow memiliki fasilitas spring bed untuk 2 orang, shower air panas (saya sangat suka bagian ini), dan kipas angin.
Setelah sampai di Sari Bungalow, saya langsung berkeliling Ubud menggunakan sepeda. Panduan saya hanya google.com dan google maps. Tidak jauh dari Sari Bungalow, terdapat ARMA'S MUSEUM. Museum ini didirikan oleh seorang seniman besar bernama Agung Rai. Di museum tersebut, terdapat lukisan, patung, dan karya seni lainnya yang dibuat tidak hanya oleh Agung Rai, tapi juga oleh seniman lainnya. Tiket masuk ke ARMA'S MUSEUM sebesar Rp 60.000,-, termasuk biaya minum kopi. Awalnya, saya pikir tersebut cukup mahal. Namun, setelah berkeliling museum, saya merasa biaya tiket masuknya sangat murah, mengingat begitu banyak karya seni dengan nilai yang luar biasa, serta pemandangan dan suasana khas pedesaan Bali yang syahdu sangat terasa. Saat saya hendak meninggalkan museum, saya bertemu dengan Agung Rai, sang seniman Bali. Saya sungguh kaget karena beliau yang sedang duduk di taman, langsung menyapa saya. Sungguh luar biasa. Beliau sangat ramah dan begitu hangat.
Gambar di atas adalah salah satu karya seniman yang sangat saya suka. Karya tersebut dibuat dari coklat yang ditempatkan di dalam bathup yang menggambarkan kebudayaan Bali sudah mulai tercampur dengan kebudayaan asing.
Setelah itu, saya mengayuh pedal sepeda saya menuju ke NEKA MUSEUM, museum yang didirikan oleh kolektor lukisan asal Bali bernama Suteja Neka. Masuk ke museum ini tidak dipungut biaya.
Kemudian, saya melanjutkan perjalanan menuju ke Blanco Museum. Dalam perjalanan, saya melewati PURA DALEM DESA PAKRAMAN UBUD. Di sana, terpampang sebuah banner mengenai pertunjukan KECAK RAMAYANA & FIRE DANCE yang akan diselenggarakan malam hari. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membeli tiket tersebut seharga Rp 80.000,-.
Setelah membeli tiket, saya menuju ke BLANCO MUSEUM. Harga tiket masuk museum sebesar Rp 35.000,-, termasuk biaya minum dan dessert. Museum ini didirikan oleh seniman asal Spanyol, Blanco, yang menikah dengan penari asal Bali. Museum ini berisi karya - karya Blanco yang banyak menampilkan sosok wanita. Yang menarik adalah kita juga bisa masuk ke studio, tempat Blanco melukis. Masih ada kanvas dan cat - cat yang digunakan Blanco yang tersusun dengan rapi. Di studio ini, dijual juga karya - karya Blanco dalam bentuk foto dengan harga Rp 25.000,-.
Dari Blanco Museum, saya kembali ke homestay. Dalam perjalanan, saya melewati Monkey Forest. Awalnya, saya ingin masuk, tapi sudah terlalu sore, sehingga saya memutuskan mengamati para monyet yang sedang meloncat - loncat dengan riangnya dari luar.
Malam hari, saya menuju ke Pura Dalem Desa Pakraman Ubud untuk menyaksikan Kecak & Fire Dance dengan menggunakan ojek yang bernama Pak Kadek. Dia banyak cerita tentang Bali, terutama Ubud. Sungguh menyenangkan bisa bertemu dengan orang asing yang sangat ramah dan baik.
Ini adalah pertama kali saya menyaksikan Tari Kecak dan Fire Dance. Sungguh luar biasa menyaksikan sebuah tarian dengan latar musik menggunakan suara dan tubuh manusia. Tidak heran tarian ini begitu mempesona.
Dari siang hingga malam, saya seharian berada di Ubud. Mengayuh sepeda. Menggunakan Google Maps. Masuk ke museum. Masuk ke dalam Pura. Dan saya jatuh cinta dengan Ubud, daerah seni Bali yang mampu menggabungkan antara kesenian, adat istiadat, dan agama yang dianut.
Kontak :
Sari Bungalow Ubud : 0361 - 975541






Tidak ada komentar:
Posting Komentar