Kemudian, kawan saya tetap membujuk saya untuk climbing sambil berkata "broo.. anak umur 4 tahun aja pada naik, masak lo kagak". Berhubung merasa "dicemenkan", akhirnya saya memutuskan untuk climbing dengan pertimbangan :
1. pergi sabtu pagi, pulang minggu sore, jadi tidak perlu cuti
2. lokasi climbing dekat, di daerah purwakarta
3. harga untuk nge - camp selama 1 malam masih bisa dirogoh dari kocek sebesar Rp 650.000,-
4. anak umur 4 tahun aja climbing
Singkat cerita, saya mencari tahu mengenai climbing di gunung parang. Climbing di sini memiliki nama lengkap "climbing via ferrata". Intinya, memanjat menggunakan media / fasilitas yang memudahkan seseorang untuk melakukan pemanjatan, misalnya menggunakan pijakan, kaca, dll. Di Indonesia, baru ada 1 lokasi yang digunakan untuk climbing via ferrata, yaitu di Gunung Parang Purwakarta. Di Gunung Parang, ada beberapa operator yang menyediakan jasa untuk climbing. Namun, saya dan kawan saya menggunakan @sky_walker (bisa cek di ig-nya). Ini adalah operator pertama atau perintis untuk climbing via ferrata di Indonesia.
Sedikit cerita untuk sejarah via ferrata. Awalnya, via ferrata ini ditemukan oleh tentara Italia di masa Perang Dunia I dengan tujuan untuk memudahkan distribusi ransum, senjata, dll. Metode via ferrata inilah yang kemudian dipakai untuk climbing dan tujuan wisata lainnya. Di Asia Tenggara, baru ada 2 tempat untuk climbing via ferrata. (1) gunung Parang Purwakarta dan (2) Gunung Kinabalu Malaysia (kabarnya, di sini harganya 1 jutaan untuk climbing).
Oh iya, awalnya di benak saya, climbing itu ialah naik gunung, ternyata bukan Buu.. climbing itu "memanjat" (wakwaawww)... Kami climbing dengan bantuan pijakan yang sangat kuat, tali, peralatan safety, dan helm.
![]() |
| Climbing Bukan Naik Gunung |
![]() |
| Saya, Yudha, Mbak Vony, Cuy |
Awal perjalanan, saya begitu semangat. Saat melihat ke bawah, ngeri ngeri sedaaappppp. Sempat ada rasa takut, tapi dikalahkan oleh kekaguman terhadap pemandangan di sekitarnya, yaitu Waduk Jatiluhur. Tidak pernah terbayangkan di benak saya kalau waduk jatiluhur itu seperti lautan yang begitu luas.
Kami sampai di titik akhir, tempat kami akan berkemah selama 1 malam sekitar pukul 4 sore. Tiba di kemah, saya langsung merebahkan diri sejenak karena lelah dan takjub bisa sampai di atas. Setelah itu, saya menikmati alam yang menakjubkan, berupa waduk jatiluhur. Saya tidak menyangka bahwa saya akan melihat waduk tersebut karena saya hanya mendengar kata "waduk jatiluhur" di kala masih SD.
![]() |
| Waduk Jatiluhur |
![]() |
| Uji Kekuatan Pantat |
| Menuju Goa |
| Goa Besar |
| Goa Kecil |
CP : instagram @sky_walker




yang foto bertiga masih goa besar, yang goa kecil itu yang cekungannya lebih menjorok kedalam, yang turun cm mbak vony sama cuy doang ( harus banget dokoreksi ) hahahhahah
BalasHapus